Kamis, 02 Agustus 2012

One real month

Temaram lampu jalan berkejaran di sepanjang Jalan Kemuning Raya. Pendarnya sesekali menyilaukan mata, membias di kaca-kaca mobil yang berjalan beriringan. Lalu lalang kendaraan bermotor semarak diiringi bunyi klakson yang bersahut-sahutan. Kadang ada kucing menyebrang, atau sekadar sopir angkot yang nyalip tanpa pikir panjang. Aku mengecilkan AC mobil lalu terhenyak di jok kulit broken white itu. Sayup-sayup terdengar suara Jill Magenta dengan cruisin with lite-nya dari radio mobil yang menyadarkanku pada sesuatu; Aku sedang mengalami doaku.
Pada beberapa malam yang aku lalui di Medan, aku mengafirmasikan suasana ini dengan cukup nyata dan penuh pengharapan. Pengharapan akan suasana sederhana yang tidak bisa didapatkan dengan sederhana. Butuh waktu, dan mungkin suatu saat suasana itu sama sekali ngga bisa aku dapatkan lagi.
Semakin silau pemandanganku ketika mobil kami melaju mendekati perempatan paling metropolit di Bekasi. Perempatan yang dikelilingi beberapa mall besar dan sebuah pintu tol serta apartemen yang baru rampung dibangun. Kerlap kerlip lampu papan reklame ribuan watt mengepung aku yang masih mendongak norak ke arah sebuah hypermall tujuan kami. Ternyata belum banyak berubah.


"Awas handphone-nya ketinggalan!" Kata mama seraya turun dari mobil dan mengintip dandanannya lewat spion.
"Iya tuh. Bawa tisu juga biar ngga meler dimana-mana." Kakak menimpali dari kursi belakang.
Setelah selesai mengurus member card, kami membeli sebuah buku inspiratif karya Merry Riana dan beberapa stationary di toko buku Gramedia yang aku yakin baru dibuka beberapa bulan terakhir ini. Di atas wedges kuning setinggi 5 cm-nya, mama berjalan keluar toko buku lalu mengamati hidungku yang mulai kemerahan akibat pilek 2 hari belakangan.
"ayo kita ke apotek!"
Obat flu, antasida, vitamin, minyak angin, tablet pelega tenggorokan dan susu beruang pun langsung memenuhi sebuah kantung plastik kecil dan menunggu dibawa pulang.
Aku menikmati setiap detil yang kualami bersama keduanya. Setiap detil yang tak bisa kulihat setiap hari. Sedetil gerakan melingkar pergelangan tangan mama saat memindahkan persneling dari gigi 2 ke gigi mundur. Sedetil jepitan viny ungu kakak di bulu matanya yang melengkung lentik. Tak perlu lagi bermahal-mahal streaming Lite Fm radio atau jauh-jauh mencari martabak keju sekadar untuk mengobati rindu pada kebiasaan-kebiasaan kami. Setidaknya untuk satu bulan ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar